Ini cuma komentar dari tulisan BERGERAKnya Rhenald Khasali. Untuk Pak Rhenald, mohon maaf nih sebelumnya, saya gak bermaksud mengkritik tulisan Anda kok. Ini cuma sekedar tulisan hasil pemikiran yang sempat terlintas ketika naik kereta ekonomi.
Ya, lagi-lagi naik kereta ekonomi. Naik dari Depok menuju kota, dengan tujuan persinggahan di Stasiun Gondangdia. Orang menyebut kereta yang akan kunaiki ini sebagai “kereta balik”, karena kereta itu memang hanya berhenti di Stasiun Depok untuk kemudian kembali lagi menuju Stasiun Kota. Biasanya, kereta balik ini, terutama kereta dengan jadwal keberangkatan jam 6.30 atau jam 7.10 ini memang bisa dibilang kosong ketika sesampainya di Depok. sementara, penumpang biasanya sudah antri berdiri di bibir peron menunggu kereta tersebut. penumpang bersiap-siap untuk berebut memperjuangkan kursi kosong di dalam kereta.
Hubungannya sama “bergerak” di artikelnya Pak Rhenald, aku menilainya begini: orang-orang yang hadir di seminarnya Pak Rhenald tentunya beli tiket seminar yang mungkin bisa dibilang gak murah deh. kalaupun mereka gak harus beli tiket, tentunya seminar itu diadakan di sebuah ruangan berAC yang nyaman, ada hidangan, ada layar, dll, yang secara kasat mata bisa dibilang bernilai. secara gak langsung, nuansa itu semakin meningkatkan rasa gengsi para peserta seminar. jadi, ketika ada tawaran uang sejumlah 100ribu oleh pak Rhenald, umumnya mereka masih “terpaku” oleh rasa gengsi itu. wong, lagi berada di sebuah forum eksekutif, kok mau-maunya ditawari “cuma” seratus ribu.
nah nilai “tidak bergeraknya” orang-orang di dalam seminar itu, sepertinya gak berlaku untuk orang-orang yang naik kereta ekonomi di setiap pagi. analisa sederhananya sih, mereka cuma bayar 1500 rupiah untuk bisa mencapai kota. dan kalo dengan seribu lima ratus rupiah, harus berdiri juga, sementara kereta selalu berhenti di setiap stasiun dan kalo memilih untuk berdiri, maka akan terkena desakan orang-orang yang baru masuk kereta, wah rasanya.. semua juga gak ada yang mau. pilihan yang paling nyaman ya: duduk. meskipun untuk mendapatkan satu bangku kursi seharga 1500, harus berebutan atau bahkan sikut-sikutan.
nah, soal sikut2an, aku malah jadi inget bahwa istilah itu konon sering digunakan di dalam instansi dimana ketika pegawainya ingin mencapai posisi puncak, mereka harus saling berebut menghalalkan segala cara untuk mencapai posisi puncak.
jadi, analisa sederhanaku sih, sebenarnya banyak buanget kok orang indonesia yang mau bergerak. cuma mungkin, ngekep gengsinya aja yang masih kegedean.. hehe. atau mungkin mereka kebanyakan bergeraknya bukan ke arah yang benar, tapi malah salah.
mungkiiin…

Recent Comments