Cimory

17 01 2008

asik aja ke Cimory resto…ceritanya nanti deh. i’ve to go home now.





Tawuran

17 01 2008

Astaghfirullah ‘alazhiim Ya Allah Ya Rabbi

sore tadi, seusai melakukan survey di daerah gadog yang sejuk dibawah kaki gunung sindur (eh gunung apa sih?), aku memilih pulang ke depok naik kereta ekonomi dari stasiun Bogor. setelah kereta masuk di stasiun bogor, aku naik ke gerbong kedua dari belakang. gak sampai sepuluh menit di dalam gerbong, kereta berjalan perlahan lahan dan akhirnya melaju cukup kencang ke arah jakarta.

di dalam kereta, aku memperhatikan orang-orang di sekelilingku. seorang ibu yang duduk dengan anaknya disebelahku, bapak-bapak yang berdiri didepanku, dua orang ibu-ibu disebelahku yang saling bercerita. seorang gadis cantik diseberangku. ibu-ibu diseberang kananku yang sedang menawar dagangan penjual buah alpukat. seorang anak kecil berumur kira-kira 5 tahun yang jadi (apa ya aku harus menyebutnya?) tukang bersih2 lantai kereta sekedar untuk meminta beberapa ratus perak dari penumpang, pedagang buah yang lewat yang menyelipkan badik di balik pinggangnya (sempat terlintas sekilas, gimana ya kalo tiba2 dia menikam seseorang? :-S), pedagang pulpen yang sedang menjajakan dagangannya sambil melirik ke aku,…tiba-tiba..

dari arah sebelah kanan, orang-orang bergerak dengan tergesa-gesa ke arah kiri. aku tidak tahu apa yang sedang terjadi. semua bergerak seperti sedang menghindari sesuatu. orang saling tabrak menabrak menghindari sesuatu yang sepertinya sedang terjadi di sebelah kanan gerbong yang aku tumpangi. sepintas ada orang berteriak tawuran-tawuran. aku sempat berhenti di ujung perbatasan ke gerbong terakhir karena orang berdesak2an menghindari sesuatu yang bergerak ke arahku. aku akhirnya merapat ke penumpang yang duduk yang tidak tahu apa yang sedang terjadi. sebagian orang panik. ibu-ibu yang membawa anaknya berusaha untuk beranjak menjauh. aku heran kenapa kalo memang sedang terjadi tawuran, tidak ada yang berusaha mencegah atau memberhentikan tawuran itu? ketika aku sedang merapat ke penumpang yang duduk, aku sempat menoleh ke arah belakangku…

astaghfirullah alazhiim..

…dua meter dari tempatku berdiri terlihat seorang anak muda berseragam putih abu-abu sedang mengamuk. mengayunkan parangnya sepanjang 50 meter ke arah anak muda lain yang sepertinya terjatuh di lantai gerbong sambil berusaha menangkis. serta merta aku berusaha melewati pintu gerbong kecil yang cuma muat buat dua orang berpapasan, tapi banyak sekali orang yang mau melewati pintu itu. orang-orang di gerbong sebelahnya pun ikut panik sambil berteriak sini bu, sini bu.. aku gak tahu bagaimana tampaknya suasana saat itu, rasanya kacau  banget. sepatu sebelah kananku akhirnya harus kurelakan tertinggal di gerbong sebelah ketika melewati pintu perbatasan gerbong.

..fyuhhh.. alhadulillah, lega, campur deg-degan, setelah berhasil sampai ke gerbong sebelahnya. orang-orang yang tidak tahu cuma menatap sambil bertanya2 dalam hati, mungkin. kuhampiri petugas kereta di ujung sana dan melaporkan kejadian yang kulihat, namun sepertinya dia juga tak bisa berbuat banyak. untungnya kereta segera sampai di stasiun bojonggede dan anak-anak berseragam putih abu-abu itu dirazia oleh petugas kereta.

akhirnya sampai juga distasiun depok. aku lepas sepatu sebelah kiriku. berjalan hanya beralas kaus kaki dan mencari sendal yang dijual di peron stasiun.

..hari yang melelahkan…





Goodluck for u, my sister.

17 01 2008

Wah, kakak yang satu ini memang betul-betul patut jadi kebanggaan orangtua deh. Ya aku bersyukur punya mbak yang satu ini. Semalem ketika aku pulang kerja, aku menyempatkan diri duduk di depan tivi sambil makan malam, sembari nemenin si kecil miaw. kebetulan dua anak lainnya udah bobo, dan kebetulan juga ada mama di depan tivi.

tiba-tiba mama cerita tanpa ada prolog, “kalo jadi, mei-juni kursusnya dimulai“. Aku mengeryitkan dahi. berpikir keras. bertanya sendiri dalam hati: topiknya apa nih? makllum aja, aku udah lama banget gak pernah ngobrol sama anggota keluarga yang lain. jadi aku bener-bener gak tahu apa yang sedang terjadi. “Kursus?” tanyaku ke mama. “Iya, si Mbak kan lulus Test Toeflnya“, jawab mama. “Terus?”, tanyaku. “Dari 40 dosen yang di test, 12 yang lulus, termasuk Mbak. Padahal dia kan dosen baru“, jawab mama. Aku menatap mama serius. “Wah, bagus dong! Dapet Beasiswa?”,  komentarku singkat. “Iya, nanti mei-juni kursusnya. terus baru kuliahnya. berangkatnya mungkin April“.

Berangkat? Kemana?” iih, mama nih kok cerita sepotong-sepotong, bikin penasaran aja. tapi tetep cool sih keliatannya :D

Ke Ostrali” jawab mama singkat.

Oooooo“…

mungkin dua tahun untuk dapetin  PhDnya

Oooooo“… dalam hati aku bergumam, PhD!? Wow! Hebat banget.

gak tau tuh anak2nya ikut atau enggak. tapi kalo anak2nya ditanya gimana ayahnya, mereka bilang, ayahnya jawabnya gak meyakinkan :D

Oooooo“… aku gak bisa comment banyak.

ya aku ikutan seneng deh. sebelum tidur, aku sempet mengenang masa dulu ketika mbak masih duduk di bangku SMA. dia memang pinter. mungkin dari kecilnya juga udah pinter kali. rasanya sih gak pernah gak rangking kelas. sampai-sampai bisa ikutan cerdas cermat di TV ketika itu. dan ketika masuk kuliah kedokteran, nilainya juga cukup memuaskan. ngeliat cara belajarnya tiap malam aja, malah aku yang mumet hehe..

asiknya lagi, selain pinter, si mbak ini peduli banget sosial. wah asik deh. meski..hmm dulu agak galak. sampai2 aku sering jarang bertegur sapa saking seringnya konflik. tapi kalo lagi jauh dicari-cari. :D

aku jadi inget, waktu di SMA dulu, sempet dapet bocoran soal-soal ujian dari temen, lalu si mbak ini deh yang ikutan nyariin jawabannya. :D

cuma memang, sepertinya aura si mbak ini sempat pudar ketika,.. itu lho mbak.. :D gak boleh kuliah, gak boleh praktek, cuma boleh ngurus anak aja di rumah, hehe.. masa lalu yg berat. tapi sekarang udah beres kan ya ;)

goodluck deh mba. papa mama pasti bangga banget bisa punya anak calon PhD. waaah mbak ini, papa banget deh. mudah2an ilmunya nanti bisa bermanfaat buat banyak orang ya bu dokter….





Bergerak versi aku

17 01 2008

Ini cuma komentar dari tulisan BERGERAKnya Rhenald Khasali. Untuk Pak Rhenald, mohon maaf nih sebelumnya, saya gak bermaksud mengkritik tulisan Anda kok. Ini cuma sekedar tulisan hasil pemikiran yang sempat terlintas ketika naik kereta ekonomi.

Ya, lagi-lagi naik kereta ekonomi. Naik dari Depok menuju kota, dengan tujuan persinggahan di Stasiun Gondangdia. Orang menyebut kereta yang akan kunaiki ini sebagai “kereta balik”, karena kereta itu memang hanya berhenti di Stasiun Depok untuk kemudian kembali lagi menuju Stasiun Kota. Biasanya, kereta balik ini, terutama kereta dengan jadwal keberangkatan jam 6.30 atau jam 7.10 ini memang bisa dibilang kosong ketika sesampainya di Depok. sementara, penumpang biasanya sudah antri berdiri di bibir peron menunggu kereta tersebut. penumpang bersiap-siap untuk berebut memperjuangkan kursi kosong di dalam kereta.

Hubungannya sama “bergerak” di artikelnya Pak Rhenald, aku menilainya begini: orang-orang yang hadir di seminarnya Pak Rhenald tentunya beli tiket seminar yang mungkin bisa dibilang gak murah deh. kalaupun mereka gak harus beli tiket, tentunya seminar itu diadakan di sebuah ruangan berAC yang nyaman, ada hidangan, ada layar, dll, yang secara kasat mata bisa dibilang bernilai. secara gak langsung, nuansa itu semakin meningkatkan rasa gengsi para peserta seminar. jadi, ketika ada tawaran uang sejumlah 100ribu oleh pak Rhenald, umumnya mereka masih “terpaku” oleh rasa gengsi itu. wong, lagi berada di sebuah forum eksekutif, kok mau-maunya ditawari “cuma” seratus ribu. :D

nah nilai “tidak bergeraknya” orang-orang di dalam seminar itu, sepertinya gak berlaku untuk orang-orang yang naik kereta ekonomi di setiap pagi. analisa sederhananya sih, mereka cuma bayar 1500 rupiah untuk bisa mencapai kota. dan kalo dengan seribu lima ratus rupiah, harus berdiri juga, sementara kereta selalu berhenti di setiap stasiun dan kalo memilih untuk berdiri, maka akan terkena desakan orang-orang yang baru masuk kereta, wah rasanya.. semua juga gak ada yang mau. pilihan yang paling nyaman ya: duduk. meskipun untuk mendapatkan satu bangku kursi seharga 1500, harus berebutan atau bahkan sikut-sikutan.

nah, soal sikut2an, aku malah jadi inget bahwa istilah itu konon sering digunakan di dalam instansi dimana ketika pegawainya ingin mencapai posisi puncak, mereka harus saling berebut menghalalkan segala cara untuk mencapai posisi puncak. :D

jadi, analisa sederhanaku sih, sebenarnya banyak buanget kok orang indonesia yang mau bergerak. cuma mungkin, ngekep gengsinya aja yang masih kegedean.. hehe. atau mungkin mereka kebanyakan bergeraknya bukan ke arah yang benar, tapi  malah salah.

mungkiiin… :D





Bergerak

14 01 2008

Guys, artikel bagus buat yang mau “berubah”…

Bergerak

“Sebagian besar orang yang melihat belum tentu bergerak, dan yang bergerak belum tentu menyelesaikan (perubahan).”

Kalimat ini mungkin sudah pernah Anda baca dalam buku baru Saya, “Change“.
Minggu lalu, dalam sebuah seminar yang diselenggarakan Indosat, iseng-iseng Saya mengeluarkan dua lembaran Rp 50.000. Di tengah-tengah ratusan orang yang tengah menyimak isi buku, Saya tawarkan uang itu. “Silahkan, siapa yang mau boleh ambil,” ujar Saya. Saya menunduk ke bawah menghindari tatapan ke muka audiens sambil menjulurkan uang Rp 100.000.

Seperti yang Saya duga, hampir semua audiens hanya diam terkesima. Saya ulangi kalimat Saya beberapa kali dengan mimik muka yang lebih serius. Beberapa orang tampak tersenyum, ada yang mulai menarik badannya dari sandaran kursi, yang lain lagi menendang kaki temannya. Seorang ibu menyuruh temannya maju, tetapi mereka semua tak bergerak.

Belakangan, dua orang pria maju ke depan sambil celingak-celinguk. Orang yang maju dari sisi sebelah kanan mulanya bergerak cepat, tapi ia segera menghentikan langkahnya dan termangu, begitu melihat seseorang dari sisi sebelah kiri lebih cepat ke depan. Ia lalu kembali ke kursinya.

Sekarang hanya tinggal satu orang saja yang sudah berada di depan Saya. Gerakannya begitu cepat, tapi tangannya berhenti manakala uang itu disentuhnya. Saya dapat merasakan tarikan uang yang dilakukan dengan keragu-raguan. Semua audiens tertegun.

Saya ulangi pesan Saya, “Silahkan ambil, silahkan ambil.”
Ia menatap wajah Saya, dan Saya pun menatapnya dengan wajah lucu.
Audiens tertawa melihat keberanian anak muda itu.
Saya ulangi lagi kalimat Saya, dan Ia pun merampas uang kertas itu dari tangan Saya dan kembali ke kursinya. Semua audiens tertawa terbahak-bahak.
Seseorang lalu berteriak, “Kembalikan, kembalikan!”
Saya mengatakan, “Tidak usah. Uang itu sudah menjadi miliknya.”

Setidaknya, dengan permainan itu seseorang telah menjadi lebih kaya Rp.100.000.
Saya tanya kepada mereka, mengapa hampir semua diam, tak bergerak.
Bukankah uang yang Saya sodorkan tadi adalah sebuah kesempatan?
Mereka pun menjawab dengan berbagai alasan:

“Saya pikir Bapak cuma main-main …………”
“Nanti uangnya toh diambil lagi.”
“Malu-maluin aja.”
“Saya tidak mau kelihatan nafsu. Kita harus tetap terlihat cool!”
“Saya enggak yakin bapak benar-benar akan memberikan uang itu..”
“Pasti ada orang lain yang lebih membutuhkannya….”
“Saya harus tunggu dulu instruksi yang lebih jelas…..”
“Saya takut salah, nanti cuma jadi tertawaan doang….”
“Saya, kan duduk jauh di belakang…”
dan seterusnya.

Saya jelaskan bahwa jawaban mereka sama persis dengan tindakan mereka sehari-hari.
Hampir setiap saat kita dilewati oleh rangkaian opportunity (kesempatan), tetapi kesempatan itu dibiarkan pergi begitu saja.
Kita tidak menyambarnya, padahal kita ingin agar hidup kita berubah.

Saya jadi ingat dengan ucapan seorang teman yang dirawat di sebuah rumah sakit jiwa di daerah Parung. Ia tampak begitu senang saat Saya dan keluarga membesuknya. Sedih melihat seorang sarjana yang punya masa depan baik terkerangkeng dalam jeruji rumah sakit bersama orang-orang tidak waras. Saya sampai tidak percaya ia berada di situ. Dibandingkan teman-temannya, ia adalah pasien yang paling waras.
Ia bisa menilai “gila” nya orang disana satu persatu dan berbicara waras dengan Saya. Cuma, matanya memang tampak agak merah. Waktu Saya tanya apakah ia merasasama dengan mereka, ia pun protes.
“Gila aja….ini kan gara-gara saudara-saudara Saya tidak mau mengurus Saya. Saya ini tidak gila. Mereka itu semua sakit…..”. Lantas, apa yang kamu maksud ’sakit’?”

“Orang ’sakit’ (gila) itu selalu berorientasi ke masa lalu, sedangkan Saya selalu berpikir ke depan. Yang gila itu adalah yang selalu mengharapkan perubahan, sementara melakukan hal yang sama dari hari ke hari…..,” katanya penuh semangat. Saya pun mengangguk-angguk.

Pembaca, di dalam bisnis, gagasan, pendidikan, pemerintahan dan sebagainya, Saya kira kita semua menghadapi masalah yang sama.
Mungkin benar kata teman Saya tadi, kita semua mengharapkan perubahan, tapi kita tak tahu harus mulai dari mana.
Akibatnya kita semua hanya melakukan hal yang sama dari hari ke hari,
Jadi omong kosong perubahan akan datang. Perubahan hanya bisa datang kalau orang-orang mau bergerak bukan hanya dengan omongan saja.

Dulu, menjelang Soeharto turun orang-orang sudah gelisah, tapi tak banyak yang berani bergerak.
Tetapi sekali bergerak, perubahan seperti menjadi tak terkendali, dan perubahan yang tak terkendali bisa menghancurkan misi perubahan itu sendiri, yaitu perubahan yang menjadikan hidup lebih baik.
Perubahan akan gagal kalau pemimpin-pemimpinnya hanya berwacana saja.
Wacana yang kosong akan destruktif.

Manajemen tentu berkepentingan terhadap bagaimana menggerakkan orang-orang yang tidak cuma sekedar berfikir, tetapi berinisiatif, bergerak, memulai, dan seterusnya.

Get Started. Get into the game. Get into the playing field, Now. Just do it!.

Janganlah mereka dimusuhi, jangan inisiatif mereka dibunuh oleh
orang-orang yang bermental birokratik yang bisanya cuma bicara
di dalam rapat dan cuma membuat peraturan saja.
Makanya tranformasi harus bersifat kultural, tidak cukup sekedar struktural.

Ia harus bisa menyentuh manusia, yaitu manusia-manusia yang aktif, berinisiatif dan berani maju.
Manusia pemenang adalah manusia yang responsif.

Seperti kata Jack Canfield, yang menulis buku Chicken Soup for the Soul, yang membedakan antara winners dengan losers adalah
“Winners take action, they simply get up and do what has to be done”.

Selamat bergerak!

Sumber: Bergerak oleh Rhenald Kasali





Cita Cita menjadi Presiden

4 01 2008

ini cerita masa kecil. ketika berusia sebelas tahun di tahun 1984. entah kenapa ada keinginan suatu ketika menjadi seorang presiden. presiden wanita pertama di indonesia. sebuah cita-cita lugu dari seorang anak kecil yang pikirannya semata-mata dipenuhi imajinasi. imajinasi bahwa masa depan, jumlah perempuan akan lebih banyak. imajinasi bahwa tidak sedikit perempuan sanggup melakukan banyak hal. termasuk memimpin sebuah negara.





Luar Biasa

4 01 2008

Pyuuuh… Tidak terasa peluh sudah menetes di sekujur tubuh. tanpa sempat lagi berusaha untuk mengusap tetes demi tetes keringat yang membasahi sampai tulang belakang. Himpit sana himpit sini sudah pasti terjadi. dorong sana dorong sini menjadi sesuatu yang akhirnya tak terkendali. gak lagi peduli apakah perempuan atau laki-laki yang ada di sekeliling.

setiap pemberhentian menjadi sebuah momok yang tak terhindari. semakin ke selatan, semakin banyak yang berusaha untuk ambil bagian dari sebuah transportasi massal bernama kereta ekonomi. ada yang mengeluh. ada yang masih bisa berbalas pantun, dan ada juga yang masih mengingat menyebut nama Allah ketika setiap kali himpitan semakin menyempit tubuh tubuh yang sebenarnya tak lagi kuat berdiri.

emansipasi menjadi sebuah makna lugas dalam realita ini. beberapa manusia berjenis laki-laki tak lagi peduli siapa dan bagaimana perempuan-perempuan harus berjuang mendapat tempat yang sedikit lega untuk berpijak. lega untuk menghirup udara yang sedikit segar disela-sela kontaminasi bau keringat yang menyengat. lega untuk tidak “tidak sengaja” dan yang mau tidak mau tersentuh oleh tubuh berbeda jenis. lega untuk duduk ketika justru beberapa lelaki duduk dan pura-pura tertidur sementara di depannya berdiri perempuan-perempuan yang mungkin cuma bisa menahan kesal dalam hati. atau bahkan mungkin bersumpah serapah.

beberapa pria yang badannya lebih tinggi dan besar, dan beruntung mendapat tempat yang lebih lega: di depan orang-orang yang duduk, justru dengan sengaja menahan badan sekuat tenaga bahkan mendorong ke belakang ketika gerbong kereta mengayun ayun tubuh-tubuh yang berhimpit-himpitan tak terelakkan. kereta ekonomi jurusan bogor itu sepertinya masih jauh sekali mencapai tujuannya. mungkin di setiap kepala penumpangnya, yang terpikir adalah: kapan ini akan berakhir. setidaknya di hari ini.

seorang laki-laki yang pura-pura tertidur tiba-tiba beranjak dan memberi duduk wanita yang sedari tadi berdiri di depannya. beberapa pria dan wanita lainnya mulai berbalas pantun menyindirnya.

“wah sudah terbangun nih, padahal kayaknya naik dari stasiun kota tuh. ibu duduk aja” kata seorang pria ke pada seorang ibu.

“wah udah kadung nih.. ” jawab si ibu spontan. semua orang yang mendengar jawaban si ibu, mungkin spontan akan berpikir si ibu akan turun di stasiun terdekat.

“iya nih, … udah kadung gondok” jawab si ibu cuek.

Ya, naik kereta ekonomi betul-betul luar biasa, setidaknya bagi yang gak biasa naik.





Hidup Merakyat

4 01 2008

Menjadi rakyat dari sebuah negara, mau tidak mau pasti terjadi pada setiap insan yang lahir dan hidup bermasyarakat dalam sebuah negara. Nggak perduli apakah negaranya besar atau kecil. Gak peduli apakah negaranya menganut sistem pemerintahan republik atau demokrat ataupun kerajaan. Gak peduli negaranya sekelas RT aja atau se-adikuasa Negeri Paman Sam. Judulnya, kalau Anda tidak dilahirkan sendirian di hutan belantara, anda pasti menjadi rakyat dari sebuah negara. Bahkan meskipun “negara” itu hanya se”besar” keluarga Anda sendiri.

sampai disini kita sepaham ya, bahwa Anda adalah terlahir menjadi seorang rakyat.

hmm… tapi, tidak semua orang mau hidup merakyat. gak semua orang mau hidup seperti orang kebanyakan. Pikir simple aja, dari 200 juta penduduk di Indonesia, kebanyakan yang menjadi pengusaha atau kebanyakan yang jadi biasa aja? ya, pasti kebanyakan yang biasa aja.

gimana sih yang hidup kebanyakan? … to be continued deh.





Young and pretty lady wishes to marry a rich guy. Fantastic reply from a financial person

4 01 2008

This is an interesting article….
A young and pretty lady posted this on a popular forum:

Title: What should I do to marry a rich guy?

I’m going to be honest of what I’m going to say here. I’m 25 this year. I’m very pretty, have style and good taste. I wish to marry a guy with $500k annual salary or above. You might say that I’m greedy, but an annual salary of $1M is considered only as middle class in New York. My requirement is not high. Is there anyone in this forum who has an income of $500k annual salary? Are you all married? I wanted to ask: what should I do to marry rich persons like you? Among those I’ve dated, the richest is $250k annual income, and it seems that this is my upper limit. If someone is going to move into high cost residential area on the west of New York City Garden (?), $250k annual income is not enough.

I’m here humbly to ask a few questions:

1) Where do most rich bachelors hang out? (Please list down the names and addresses of bars, restaurant, gym)

2) Which age group should I target?

3) Why most wives of the riches is only average-looking? I’ve met a few girls who doesn’t have looks and are not interesting, but they are able to marry rich guys

4) How do you decide who can be your wife, and who can only be your girlfriend? (my target now is to get married)

Ms. Pretty


Here’s a reply from a Wall Street Financial guy:

Dear Ms. Pretty,

I have read your post with great interest. Guess there are lots of girls out there who have similar questions like yours. Please allow me to analyze your situation as a professional investor. My annual income is more than $500k, which meets your requirement, so I hope everyone believes that I’m not wasting time here.

From the standpoint of a business person, it is a bad decision to marry you. The answer is very simple, so let me explain. Put the details aside, what you’re trying to do is an exchange of “beauty” and “money”: Person A provides beauty, and Person B pays for it, fair and square. However, there’s a deadly problem here, your beauty will fade, but my money will not be gone without any good reason. The fact is, my income might increase from year to year, but you can’t be prettier year after year. Hence from the viewpoint of economics, I am an appreciation asset, and you are a depreciation asset. It’s not just normal depreciation, but exponential depreciation. If that is your only asset, your value will be much worried 10 years later

By the terms we use in Wall Street, every trading has a position, dating with you is also a “trading position”. If the trade value dropped we will sell it and it is not a good idea to keep it for long term – same goes with the marriage that you wanted. It might be cruel to say this, but in order to make a wiser decision any assets with great depreciation value will be sold or “leased”. Anyone with over $500k annual income is not a fool; we would only date you, but will not marry you. I would advice that you forget looking for any clues to marry a rich guy. And by the way, you could make yourself to become a rich person with $500k annual income. This has better chance than finding a rich fool.

Hope this reply helps. If you are interested in “leasing” services, do contact me
signed, J.P. Morgan





Awal 2008

3 01 2008

kupu2.gif

Selamat Datang 2008 M.

gak ada sesuatu yang bikin terpesona banget sih di awal tahun ini. lebih berasa sendu. hujan dimana-mana, banjir dimana-mana, alhamdulillah di sekitar rumah sih gak banjir, tapi tetep aja kepala pusing karena ini karena itu. judulnya sih alhamdulillah masih bisa menghirup udara gratis. alhamdulillah masih diberi hidup sampai hari ini. meskipun kereta masih dengan jadwalnya yang kacau dan gak beres-beres juga.








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.